2016, Un Agama Pakai Dua Tipe Soal

Siswa SMA/sederajat sedang bersiap menghadapi ujian nasional (UN). Selain mempelajari aneka macam mata pelajaran umum, mereka juga harus menguasai bahan ujian untuk mata pelajaran agama.

Persiapan juga dilakukan oleh Kementerian Agama (Kemenag), termasuk kantor-kantor perwakilannya di aneka macam daerah. Kemenag di Daerah spesial Yogyakarta (DIY) misalnya, telah bersiap menggelar UN Pendidikan Agama bagi siswa jenjang SD/sederajat sampai SMA/sederajat pada tahun aliran 2015/2016. UN Pendidikan Agama ini sedikitnya akan diikuti 43 ribu siswa jenjang SD, 34 ribu siswa jenjang SMP, 13 ribu siswa jenjang Sekolah Menengan Atas dan 18 ribu siswa jenjang Sekolah Menengah kejuruan yang tersebar di lima kabupaten/kota di DIY.

Kepala Seksi Pendidikan Agama Islam (PAI), Bidang Mapenda, Kemenag DIY, Sunu Darsono, menyatakan, pihaknya telah menyiapkan dua jenis soal berbeda terkait pelaksanaan UN PA tersebut. Yakni soal yang dibentuk menurut Kurikulum 2013 (K13) serta soal yang dibentuk menurut kurikulum 2006 atau Kurikulum Tingkat Satuan Pendidikan (KTSP). Setiap sekolah nantinya akan diberikan soal ujian sesuai dengan kurikulum yang diajarkan setahun terakhir.

"Kami juga sudah memetakan sebelumnya mana sekolah yang memakai K13, mana KTSP. Sehingga nanti mereka akan mendapat soal sesuai dengan kurikulum yang dipakai masing-masing. Sehingga tidak perlu khawatir soal tidak sesuai dengan kurikulum yang diajarkan," kata Sunu.

Proses pencetakan soal sendiri rencananya akan mulai dilakukan pada ahad ketiga Februari. Sedikitnya 168 pokja disiapkan di seluruh DIY guna kelancaran pelaksanaan UN PA tersebut. Sementara proses pelaksanaan masih sama ibarat tahun lalu, yakni memakai sistem ujian berbasis kertas.

Tahun ini yaitu kali ketujuh Kemenag DIY menggelar UN Pendidikan Agama. Menurut Sunu, belum semua sekolah mengikuti UN PA tahun ini. Masih ada sekolah-sekolah yang menolak mengikuti UN PA alasannya mempunyai kebijakan sendiri.

"Memang masih ada yang belum ikut. Rata-rata yaitu sekolah di bawah yayasan tertentu. Kami mempersilakan saja alasannya yayasan punya kebijakan sendiri," katanya

Subscribe to receive free email updates:

loading...