Aturan Jumlah Rombongan Berguru Dan Penerima Didik Dalam Satu Rombongan Belajar

Rombongan Belajar
Dalam data pokok pendidikan, rombongan mencar ilmu yaitu kelompok penerima didik yang terdaftar pada satuan kelas dalam satu satuan pendidikan. Rombongan Belajar sering disebut dengan Rombel, identik dengan banyaknya kelas dalam suatu sekolah. Keberadaan jumlah rombongan mencar ilmu dalam suatu satuan pendidikan menjadi sangat penting untuk menetapak jumlah jam mengajar yang harus dipenuhi oleh guru.

Jumlah rombongan mencar ilmu tiap sekolah berbeda-beda, diubahsuaikan dengan jumlah penerima didik yang terdaftar dalam sekolah tersebut. Jumlah penerima didik dalam satu rombongan mencar ilmu diatur sebagai berikut. 
  1. SD dalam satu kelas berjumlah paling sedikit 20 penerima didik dan paling banyak 28 penerima didik
  2. SMP dalam satu kelas berjumlah paling sedikit 20 penerima didik dan paling banyak 32 penerima didik
  3. SMA dalam satu kelas berjumlah paling sedikit 20 penerima didik dan paling banyak 36 penerima didik
  4. SMK dalam satu kelas berjumlah paling sedikit 15 penerima didik dan paling banyak 36 penerima didik
  5. SDLB dalam satu kelas paling banyak 5 penerima didik
  6. SMPLB dan SMALB dalam satu kelas paling banyak 8 penerima didik

Sementara itu jumlah rombongan mencar ilmu dalam satu sekolah juga harus berpedoman pada hukum jumlah rombel berikut ini.
  1. SD, paling sedikit 6 rombongan mencar ilmu dan paling banyak 24 rombongan mencar ilmu dengan ketentuan maksimal 4 rombongan mencar ilmu pada masing-masing tingkat.
  2. SMP, paling sedikit 3 rombongan mencar ilmu dan paling banyak 33 rombongan mencar ilmu dengan ketentuan maksimal 11 rombongan mencar ilmu pada masing-masing tingkat.
  3. SMA, paling sedikit 3 rombongan mencar ilmu dan paling banyak 36 rombongan mencar ilmu dengan ketentuan maksimal 12 rombongan mencar ilmu pada masing-masing tingkat.
  4. SMK, paling sedikit 3 rombongan mencar ilmu dan paling banyak 72 rombongan mencar ilmu dengan ketentuan maksimal 24 rombongan mencar ilmu pada masing-masing tingkat.

Meskipun begitu, hukum mengenai jumlah rombongan mencar ilmu dan jumlah penerima didik dalam rombongan mencar ilmu tidak sepenuhnya bisa diterapkan di semua sekolah. Hal ini bergantung kepada terbatasnya ruang kelas dan tenaga pendidik dan kependidikan di masing-masing sekolah. Misalnya di sekolah A, siswa kelas 1 berjumlah 40 siswa, namun sekolah hanya bisa menyediakan satu ruang kelas untuk kelas 1 dan hanya ada 1 guru kelas yang mengampu. Maka dengan sangat terpaksa, sekolah tersebut tetap menyebabkan kelas tersebut menjadi satu rombongan belajar. 

Aturan jumlah rombongan mencar ilmu dan jumlah penerima didik dalam rombongan mencar ilmu akan sanggup dijalankan dengan maksimal apabila dibarengi dengan pemerataan tenaga pendidik dan re-posisi tenaga pendidik serta memaksimalkan dana pendidikan untuk kebutuhan penambahan ruang kelas dan tenaga pendidik.

Subscribe to receive free email updates:

loading...