Mengenal Sekilas Perihal Pendidikan Inklusif

dapodikblog.com (21/11/2017) - Inklusif diambil dari kata dalam bahasa inggris yakni “to include” atau “inclusion” atau “inclusive” yang berarti mengajak masuk atau mengikutsertakan. Dalam pengertian “Inklusif” yang diajak masuk atau yang diikutsertakan ialah menghargai dan merangkul setiap individu dengan perbedaan latar belakang, jenis kelamin, etnik, usia, agama, bahasa, budaya, karakteristik, status, cara/pola hidup, kondisi fisik, kemampuan dan kondisi beda lainnya (UNESCO: 2001; 17). 

 Inklusif diambil dari kata dalam bahasa inggris yakni  Mengenal sekilas wacana Pendidikan Inklusif
Sumber gambar : google
Pendidikan inklusif ialah pendidikan yang terbuka dan ramah terhadap pembelajaran dengan mengedepankan tindakan menghargai dan merangkul perbedaan. Sedangkan berdasarkan Permendiknas No 70 tahun 2009 pendidikan inklusif ialah sistem penyelenggaraan pendidikan yang memperlihatkan kesempatan kepada semua penerima didik yang mempunyai kelainan dan mempunyai potensi kecerdasan dan/atau talenta istimewa untuk mengikuti pendidikan atau pembelajaran dalam satu lingkungan pendidikan secara bersama-sama dengan penerima didik pada umumnya.

Untuk itu, pendidikan inklusif dipahami sebagai sebuah pendekatan yang berusaha mentransformasi sistem pendidikan dengan meniadakan kendala yang sanggup menghalangi setiap individu siswa untuk berpartisipasi penuh dalam pendidikan yang dilengkapi dengan layanan pendukung. 

Inklusif merupakan perubahan simpel dan sederhana yang memberi peluang kepada setiap individu dengan setiap perbedaannya untuk bisa berhasil dalam belajar. Perubahan ini tidak hanya menguntungkan individu yang sering tersisihkan menyerupai anak berkebutuhan khusus, tetapi semua anak dan orang tuanya, semua guru dan direktur sekolah, dan setiap anggota masyarakat dan lingkungannya juga mendapat laba dari setiap perubahan yang dilakukan.

Tujuan Pendidikan Inklusif

Secara umum pendidikan inklusif diselenggarakan dengan tujuan:
  1. memastikan bahwa semua anak mempunyai saluran terhadap pendidikan yang terjangkau, efektif, relevan dan tepat dalam wilayah tempat tinggalnya; 
  2. memastikan semua pihak untuk membuat lingkungan mencar ilmu yang aman biar seluruh anak terlibat dalam proses pembelajaran Jadi, Inklusif dalam pendidikan merupakan proses peningkatan partisipasi siswa dan mengurangi keterpisahannya dari budaya, kurikulum dan komunitas sekolah setempat. 
Sementara itu tujuan pendidikan inklusif sebagaimana tercantum dalam Pedoman Penyelenggaraan Pendidikan Inklusif di Indonesia, Kemdiknas Tahun 2007 ialah sebagai berikut: 
  1. memberikan kesempatan kepada semua anak (termasuk anak berkebutuhan khusus) untuk mendapat pendidikan yang layak sesuai dengan kebutuhannya; 
  2. membantu mempercepat agenda wajib mencar ilmu pendidikan dasar; 
  3. membantu meningkatkan mutu pendidikan dasar dan menengah dengan menekan angka tinggal kelas dan putus sekolah; 
  4. menciptakan model pendidikan yang menghargai keanekaragaman, tidak diskriminatif, serta ramah terhadap pembelajaran; 
  5. memenuhi amanat UUD 1945 khususnya pasal 32 ayat 1 yang berbunyi “setiap warga negara negara berhak mendapat pendidikan”, dan ayat 2 yang berbunyi “setiap warga negara wajib mengikuti pendidikan dasar dan pemerintah wajib membiayainya”. Undang-Undang Nomor 20 Tahun 2003 Tentang Sistem Pendidikan Nasional, khususnya pasal 5 ayat 1 yang berbunyi “setiap warga negara mempunyai hak yang sama untuk memperoleh pendidikan yang bermutu”. Undang-Undang Nomor 23 Tahun 2002 Tentang Perlindungan Anak, khususnya pasal 51 yang berbunyi “anak yang menyandang cacat fisik dan/atau mental diberikan kesempatan yang sama dan aksesibilitas untuk memperoleh pendidikan biasa dan pendidikan luar biasa.

Landasan Pendidikan Inklusif

1) Landasan Filosofis

Landasan filosofis dalam penerapan pendidikan inklusif di Indonesia ialah Pancasila yang merupakan lima pilar sekaligus keinginan yang didirikan atas fondasi yang lebih fundamental lagi, yang disebut Bhineka Tunggal Ika (Mulyono Abdulrahman: 2003). Filsafat ini sebagai wujud legalisasi kebinekaan manusia, baik kebinekaan vertikal maupun horizontal, yang mengemban misi tunggal sebagai umat Allah di bumi. Kebinekaan vertikal ditandai dengan perbedaan kecerdasan, kekuatan fisik, kemampuan finansial, kepangkatan, kemampuan pengendalian diri, dsb. Sedangkan kebinekaan horizontal diwarnai dengan perbedaan suku bangsa, ras, bahasa, budaya, agama, tempat tinggal, daerah, afiliasi politik, dsb. Meskipun adanya keberagaman, namum kesamaan misi yang diemban di bumi ini ialah membangun kebersamaan dan interaksi yang dilandasi saling membutuhkan. Bertolak dari filosofi Bhineka Tunggal Ika, kelainan (kecacatan) dan keberbakatan hanyalah satu bentuk kebinekaan menyerupai halnya perbedaan suku, ras, bahasa budaya, atau agama. Di dalam diri individu berkelainan, pastilah sanggup ditemukan keunggulan-keunggulan tertentu, sebaliknya di dalam diri individu berbakat niscaya terdapat juga keganjilan tertentu, alasannya ialah tidak ada makhluk di bumi ini yang diciptakan sempurna. Kecacatan dan keunggulan tidak memisahkan penerima didik satu dengan lainnya, menyerupai halnya perbedaan suku, bahasa, budaya, atau agama. Hal ini harus diwujudkan dalam sistem pendidikan. Sistem pendidikan harus memungkinkan terjadinya pergaulan dan interaksi antar siswa yang beragam, sehingga mendorong perilaku silih asah, silih asih, dan silih asuh dengan semangat toleransi, menyerupai halnya yang dijumpai atau dicita-citakan dalam kehidupan sehari-hari. 

2) Landasan Yuridis

Landasan yuridis internasional penerapan pendidikan inklusif ialah Deklarasi Salamanca (UNESCO: 1994) oleh para menteri pendidikan sedunia. Deklarasi ini gotong royong merupakan penegasan kembali atas Deklarasi PBB wacana HAM Tahun 1948, dan banyak sekali deklarasi lanjutan yang berujung pada Peraturan Standar PBB Tahun 1993 wacana kesempatan yang sama bagi individu berkelainan memperoleh pendidikan, sebagai bab integral dari sistem pendidikan yang ada. Deklarasi Salamanca menekankan bahwa selama memungkinkan, semua anak seyogianya mencar ilmu bersama-sama tanpa memandang kesulitan ataupun perbedaan yang mungkin ada pada mereka. Sebagai bab dari umat insan yang mempunyai tata pergaulan internasional, Indonesia tidak sanggup begitu saja mengabaikan deklarasi UNESCO tersebut. Di Indonesia, penerapan pendidikan inklusif dijamin oleh Undang- undang Nomor 20 Tahun 2003 Tentang Sistem Pendidikan Nasional, yang dalam penjelasannya menyebutkan bahwa penyelenggaraan pendidikan untuk penerima didik berkelainan atau mempunyai kecerdasan luar biasa diselenggarakan secara inklusif atau berupa sekolah khusus. Teknis penyelenggaraannya akan diatur dalam bentuk peraturan operasional. 

3) Landasan Pedagogis

Dalam Undang-Undang RI Nomor 20 Tahun 2003 Tentang Sistem Pendidikan Nasional, pada pasal 3, disebutkan bahwa tujuan pendidikan nasional ialah berkembangnya potensi penerima didik biar menjadi insan yang beriman dan bertakwa kepada Allah Yang Maha Esa, berakhlak mulia, sehat, berilmu, cakap, kreatif, mandiri, dan menjadi warga negara yang demokratis dan bertanggung jawab. Jadi, melalui pendidikan, semua penerima didik termasuk yang berkebutuhan khusus, dibuat menjadi warga negara yang demokratis dan bertanggung jawab, yaitu individu yang bisa menghargai perbedaan dan berpartisipasi dalam masyarakat. Tujuan ini tidak mungkin tercapai jikalau semenjak awal anak berkubutuhan khusus diisolasikan dari teman sebayanya di sekolah-sekolah khusus. Betapapun kecilnya, mereka harus diberi kesempatan bersama teman sebayanya. 

4) Landasan Empiris 

Penelitian wacana inklusif telah banyak dilakukan di negara-negara barat semenjak 1980-an, namun penelitian yang berskala besar dipelopori oleh The National Academy of Sciences (Amerika Serikat). Hasilnya memperlihatkan bahwa pembagian terstruktur mengenai dan penempatan anak berkelainan di sekolah, kelas atau tempat khusus tidak efektif dan diskriminatif. Layanan ini merekomendasikan biar pendidikan khusus secara segregatif hanya diberikan terbatas berdasarkan hasil identifikasi yang tepat (Heller, Holtzman & Messick ;1982). Beberapa pakar bahkan mengemukakan bahwa sangat sulit untuk melaksanakan identifikasi dan penempatan anak berkelainan secara tepat, alasannya ialah karakteristik mereka yang sangat heterogen (Baker, Wang, dan Walberg, 1994/1995). Beberapa peneliti kemudian melaksanakan analisis lanjut atas hasil banyak penelitian sejenis. Hasil analisis yang dilakukan oleh Carlberg dan Kavale (1980) terhadap 50 penelitian, Wang dan Baker (1985/1986) terhadap 11 penelitian, dan Baker (1994) terhadap 13 penelitian memperlihatkan bahwa pendidikan Inklusif berdampak positif, baik terhadap perkembangan akademik maupun sosial anak berkelainan dan teman sebayanya.

Sumber : "Pendidikan Inklusif Dan Perlindungan Anak" - Pusat Pengembangan  Tenaga Kependidikan Badan Pengembangan Sumber Daya Manusia Pendidikan Dan Kebudayaan Dan Penjaminan Mutu Pendidikan Kementerian Pendidikan Dan Kebudayan 2015

Sumber http://www.al-maududy.com/

Subscribe to receive free email updates:

loading...