3 (Tiga) Alternatif Cara Dukungan Nilai Dalam Pembelajaran Remidial

 ALTERNATIF CARA PEMBERIAN NILAI DALAM PEMBELAJARAN REMIDIAL 3 (TIGA) ALTERNATIF CARA PEMBERIAN NILAI DALAM PEMBELAJARAN REMIDIAL
dapodikblog.com (19/11/2017) - Pembelajaran remedial diakhiri dengan evaluasi untuk melihat pencapaian akseptor didik pada KD yang diremedial. Pembelajaran remedial intinya difokuskan pada KD yang belum tuntas dan sanggup diberikan berulang-ulang hingga mencapai KKM dengan waktu hingga batas simpulan semester. Apabila hingga simpulan semester pembelajaran remedial belum sanggup membantu akseptor didik mencapai KKM, pembelajaran remedial bagi akseptor didik tersebut sanggup dihentikan. Pendidik tidak dianjurkan memaksakan untuk memberi nilai tuntas (sesuai KKM) kepada akseptor didik yang belum mencapai KKM.


Pemberian nilai KD bagi akseptor didik yang mengikuti pembelajaran remedial yang dimasukkan sebagai hasil evaluasi harian (PH), sanggup dipilih beberapa alternatif berikut :

a) Alternatif 1

Peserta didik diberi nilai sesuai capaian yang diperoleh akseptor didik sesudah mengikuti remedial. Misalkan, suatu mata pelajaran (IPA) mempunyai KKM sebesar 64. Seorang akseptor didik, Andi memperoleh nilai PH-1 (KD 3.1) sebesar50. Karena Andi belum mencapai KKM, maka Andi mengikuti remedial untuk KD 3.1. Setelah Andi mengikuti remedial dan diakhiri dengan penilaian, Andi memperoleh hasil evaluasi sebesar 80. Berdasarkan ketentuan tersebut, maka nilai PH-1 (KD 3.1) yang diperoleh Andi ialah sebesar 80.

Keuntungan memakai ketentuan ini:
  1. Meningkatkan motivasi akseptor didik selama mengikuti pembelajaran re-medial sebab akseptor didik mempunyai kesempatan untuk memperoleh nilai yang maksimal.
  2. Ketentuan tersebut sesuai dengan prinsip mencar ilmu tuntas (mastery learning).
Kelemahan memakai ketentuan ini:

Peserta didik yang telah tuntas (misalnya, Wati dengan nilai 75) dan nilainya dilampaui oleh akseptor didik yang mengikuti remedial (misalnya, Andi dengan nilai 80), kemungkinan Wati mempunyai perasaan diperlakukan “tidak adil” oleh pendidik. Oleh sebab itu, pendidik disarankan memperlihatkan kesempatan yang sama pada akseptor didik yang telah mencapai KKM untuk memperoleh nilai yang maksimal.

b) Alternatif 2

Peserta didik diberi nilai dengan cara merata-rata antara nilai capaian awal (sebelum mengikuti remedial) dan capaian simpulan (setelah mengikuti remedial), dengan ketentuan:
  1. (1) Jika capaian simpulan telah melebihi KKM (misalnya, Badar memperoleh nilai 90) dan sesudah dirata-rata dengan capaian awal (misalnya, capaian awal Badar ialah 60) ternyata hasil rata-rata telah melebihi KKM (nilai 64), maka hasil rata-rata (nilai 75) sebagai nilai perolehan akseptor didik tersebut (Badar).
  2. Jika capaian simpulan telah melebihi KKM (misalnya, Andi memperoleh nilai 70) dan sesudah dirata-rata dengan capaian awal (misalnya, capaian awal Andi ialah 50) ternyata hasil rata-rata belum mencapai KKM (nilai 64), maka Andi diberi nilai sebesar nilai KKM, yaitu 70.
Alternatif 2 ini sebagai upaya untuk mengatasi kelemahan Alternatif 1, meskipun Alternatif 2 ini tidak mempunyai dasar teori, namun lebih mengedepankan faktor kebijakan pendidik. Upaya lain, untuk mengatasi kelemahan Alternatif 1, yaitu dengan memperlihatkan kesempatan yang sama bagi semua akseptor didik untuk mengikuti tes, namun dengan catatan perlu diinformasikan kepada akseptor didik bahwa konsekuensi nilai yang akan diambil ialah nilai hasil tes tersebut atau nilai terakhir.

c) Alternatif 3

Peserta didik diberi nilai sama dengan KKM yang ditetapkan oleh sekolah untuk suatu mata pelajaran, berapapun nilai yang dicapai akseptor didik tersebut telah melampaui nilai KKM.

Sumber http://www.al-maududy.com/

Subscribe to receive free email updates:

loading...