Cara Terbaru Memilih Jumlah Rombel Biar Valid Di Isu Ptk

dapodikblog.com (17/10/2017) - Sejak tahun pelajaran 2017/2018 ada yang sedikit berbeda dalam penentuan jumlah rombongan belajar, utamanya untuk kelas gres (kelas I, kelas VII dan kelas X). Pada awal-awalnya penentuan jumlah rombel ini gaungnya biasa-biasa saja. Mulai ramai dibicarakan saat data pemberian sertifikasi guru mulai dipublish melalui laman Info GTK, saat ditemukan banyak sekali data guru yang tidak valid terutama yang mengampu mata pelajaran di kelas-kelas awal (1, 7, dan 10) dimana hukum gres ini diberlakukan.

Rumus penentuan jumlah rombel ini bahkan muncul di tengah-tengah semester berjalan, bahkan hampir di selesai semester sehingga tentu saja menyebabkan banyak sekali macam persoalan. Pengaturan rombel di tengah jalan tentu saja tidak semudah membalik telapak tangan. Ada banyak faktor yang akan terusik ibarat PTK, Siswa dan Sarprasnya.

Bagi sekolah yang sudah menerapkan sesuai dengan peraturan tersebut tentu  saja sanggup bernafas lega, lantaran semua PTK nya menjadi valid dan bahkan sudah keluar SK. Tetapi bagi sekolah yang pada awalnya memahami petunjuk Permendikbud tersebut dari sudut yang berbeda, maka mau tidak mau harus merombak ulang pembagian rombelnya.

Permendikbud No. 17 Tahun 2017


Agar lebih terperinci ada baiknya saya kutipkan kembali di sini Permendikbud No. 17 tahun 2017 pasal 24
yang menyebutkan bahwa jumlah akseptor didik dalam satu Rombongan Belajar diatur sebagai berikut:
  1. SD dalam satu kelas berjumlah paling sedikit 20 (dua puluh) akseptor didik dan paling banyak 28 (dua puluh  delapan) akseptor didik;
  2. SMP dalam satu kelas berjumlah paling sedikit 20 (dua puluh) akseptor didik dan paling banyak 32 (tiga puluh dua) akseptor didik;
  3. SMA dalam satu kelas berjumlah paling sedikit 20 (dua puluh) akseptor didik dan paling banyak 36 (tiga puluh enam) akseptor didik;
  4. SMK dalam satu kelas berjumlah paling sedikit 15 (lima belas) akseptor didik dan paling banyak 36 (tiga puluh enam) akseptor didik.
  5. Sekolah Dasar Luar Biasa (SDLB) dalam satu kelas berjumlah paling banyak 5 (lima) akseptor didik; dan 
  6. Sekolah Menengah Pertama Luar Biasa (SMPLB) dan Sekolah Menengah Atas Luar Biasa (SMALB) dalam satu kelas berjumlah paling banyak 8 (delapan) akseptor didik.
Kemudian pada pasal 25 dijelaskan bahwa :"Ketentuan jumlah akseptor didik dalam 1 (satu) Rombongan Belajar sebagaimana dimaksud dalam Pasal 24 dapat dikecualikan paling banyak 1 (satu) Rombongan Belajar dalam 1 (satu) tingkat kelas."

Sedangkan pasal 26 menjelaskan perihal jumlah Rombongan Belajar pada Sekolah yang diatur sebagai berikut:
  1. SD atau bentuk lain yang sederajat berjumlah paling sedikit 6 (enam) dan paling banyak 24 (dua puluh empat) Rombongan Belajar, masing-masing tingkat paling banyak 4 (empat) Rombongan Belajar;
  2. SMP atau bentuk lain yang sederajat berjumlah paling sedikit 3 (tiga) dan paling banyak 33 (tiga puluh tiga) Rombongan Belajar, masing-masing tingkat paling banyak 11 (sebelas) Rombongan Belajar; 
  3. SMA atau bentuk lain yang sederajat berjumlah paling sedikit 3 (tiga) dan paling banyak 36 (tiga puluh enam) Rombongan Belajar, masing-masing tingkat paling banyak 12 (dua belas) Rombongan Belajar; dan 
  4. SMK atau bentuk lain yang sederajat berjumlah paling sedikit 3 (tiga) dan paling banyak 72 (tujuh puluh dua) Rombongan Belajar, masing-masing tingkat paling banyak 24 (dua puluh empat) Rombongan Belajar.

Rumus menghitung rombel untuk kelas 1, 7 dan 10


Ketika pada isu GTK terdapat notifikasi data Invalid dengan "Jumlah Siswa Kurang Mencukupi", yang perlu kita perhatikan untuk memperbaikinya yaitu kondisi jumlah rombel pada kelas-kelas awal (kelas 1, kelas 7 dan kelas 10). Sebab untuk kelas-kelas tersebut terdapat perlakuan khusus yang didasarkan atas Permendikbud No. 17 Tahun 2017 perihal PPDB dan PP No. 19 tahun 2017 perihal guru.
 ada yang sedikit berbeda dalam penentuan jumlah rombongan berguru Cara terbaru memilih jumlah Rombel biar valid di isu PTK
Sumber gambar : Mari Belajar (FB)
Sedangkan untuk kelas-kelas ( 2 s/d kelas 6 ) ( kelas 8 dan 9) masih tetap memakai rasio Siswa 1:20, 1 rombel minimal 20 siswa, terkecuali untuk rombel non paralel (hanya 1 rombel) maka jumlah siswanya boleh di bawah minimal.
 ada yang sedikit berbeda dalam penentuan jumlah rombongan berguru Cara terbaru memilih jumlah Rombel biar valid di isu PTK
Sumber gambar : Tagor Alamsyah Harahap

Perlakuan khusus untuk kelas 1, 7 dan 10 yaitu Jumlah rombongan berguru per tingkat pada satuan pendidikan yang diakui dalam perhitungan beban kerja yaitu jumlah akseptor didik per tingkat dibagi dengan jumlah maksimum akseptor didik dalam satu rombongan berguru sesuai dengan ketentuan perundang-undangan. Hasil perhitungan dibulatkan ke atas. Dengan kata lain rumusnya yaitu jumlah siswa dibagi dengan batas maksimal siswa per rombel sesuai ketentuan pasal 24 Permendikbud No 17 Tahun 2017. Jika dalam pembagian tersebut ada sisanya, maka dibulatkan ke atas.

Perhatikan teladan berikut :
  1. Untuk SD Jumlah siswa kelas 1/28 = ......... Jumlah rombel
    contoh. Jumlah siswa kelas 1 ada 40 : 28 = 1,4 pembulatan ke atas jadi 2 ( Jumlah maximal Rombel )
  2. Untuk SMP Jumlah siswa kelas 7/32 = ......... Jumlah rombel
    contoh. Jumlah siswa kelas 7 ada 40 : 32 = 1,3 pembulatan ke atas jadi 2 ( Jumlah maximal Rombel )
    Contoh lainnya :
    Jumlah akseptor didik SMP kelas 7 (tujuh) sebanyak 75 (tujuh puluh lima) orang. Sesuai standar proses, maksimal akseptor didik dalam satu rombel sebanyak 32 orang. Maka jumlah rombel yang diakui dalam perhitungan beban kerja yaitu 75/32=2,34 dibulatkan ke atas menjadi 3 rombel.
Makara pembagian menurut jumlah maksimal siswa tersebut khusus untuk rombel, sedangkan jumlah akseptor didik anggota rombel tetap mengacu pada Permendikbud No. 17 Tahun 2017 perihal PPDB. Boleh minimal atau maksimal, boleh juga dalam rentang minimal maksimal bahkan boleh kurang dari minimal apabila dalam perhitungan rombel ada siswa di bawah minimal, tetapi dilarang lebih dari batas maksimal.

Seperti ditegaskan juga oleh Bp Ibnu Aditya Karana salah seorang admin Tunjangan pada Ditjen GTK Kemdikbud bahwa "Rumusan ini hanya digunakan untuk memilih jumlah rombel bukan pembagian jumlah siswa."
Contoh : 
Jumlah siswa kelas 7 sebanyak 33 siswa maka sanggup dibuat menjadi 2 rombel.
Pembagiannya
A = 32, B = 1 >> valid kedua duanya
A = 22, B = 13 >> valid kedua duanya
Mau berapapun komposisinya yang penting batasannya 2 rombel

Jika anda belum terperinci dengan uraian di atas, silahkan tulis di kolom komentar di bawah...


Sumber http://www.al-maududy.com/

Subscribe to receive free email updates:

loading...