Ini Ia Syarat Penelitian Tindakan Kelas (Ptk) Untuk Kenaikan Pangkat Guru


Semenjak berlangsungnya reformasi di bidang pendidikan dii tanah air, tak luput reformasi menyentuh pada profesi guru sebagai ujung tombak  di kelas dalam kerangka mencerdaskan kehidupan bangsa. Guru oleh pemerintah telah ditetapkan sebagai salah satu pekerjaan profesi yang setara dengan dengan profesi lainnya menyerupai dokter, pengacara, musisi, akuntan dan sebagainya. Penetapan ini tentu saja membawa konsekwensi bahwa guru mempunyai kewajiban untuk meningkatkan profesionalitasnya seiring dengan peningkatan kesejahteraan yang diperolehnya.

Salah satu bentuk peningkatan profesionalisme guru yang dikala ini banyak disorot yakni penyusunan Karya Tulis Ilmiah diantaranya yakni laporan Penelitian Tindakan Kelas (PTK). Penyusunan laporan Penelitian Tindakan Kelas (PTK) bagi seorang guru disamping sebagai bentuk implementasi peningkatan profesionalismenya juga merupakan salah satu komponen yang diharapkan untuk kenaikan pangkat. 

Ironisnya ternyata sebuah laporan PTK tidak serta merta bisa lolos menjadi salah satu komponen penyusunan PAK. Oleh alasannya yakni itu goresan pena yang diposting oleh Dr. Imron Rosidi, M.Pd Koordinator Penilai PAK kota Pasuruan dan Penilai PAK Propinsi pada group FB "Ikatan Guru Indonesia" berikut ini patut kita simak, selengkapnya dia menulis ...

Mungkin di antara kita pernah merasa kecewa ketika mengajukan PAK, PTK kita dinilai 0. PTK yang telah disusun dengan susah payah dalam waktu yang cukup usang tiba-tiba tidak diakui. Padahal, kita sudah berusaha mengikuti beberapa teori perihal teknik menciptakan PTK yang baik, penggunaan bahasa ilmiah, dan sistematika yang telah ditentukan. Akan tetapi, mengapa PTK tersebut masih ditolak?

Ada beberapa syarat sebuah PTK bisa dinilai 4, yaitu sebagai berikut:
  1. Judul PTK harus bercirikan PTK 
    Judul PTK Pada umumnya diawali dengan kata Penggunaaan atau kata Peningkatan, atau kelompok kata Upaya Meningkatkan. Selain itu, judul PTK harus memuat empath al, yaitu penyakit (KD apa yang tidak tuntas), obat (tindakan apa yang akan digunakan), pasien (siswa kelas berapa) dan rumah sakit (SD/SMP/SMA mana)
    Contoh:
    (1) Peningkatan kemampuan memahami jenis berdiri dengan memakai media PARET siswa kelas V B SD Negeri Petamanan Pasuruan
    (2) Penggunaan Metode Tadarus untuk meningkatkan kemampuan memahami jenis-jenis paragraf siswa kelas X SMAN 2 Surabaya
  2. Dilakukan di kelas guru peneliti mengajar
    Dikatakan sebagai sebuah PTK berarti penelitian dilakukan di kelas kawasan guru tersebut mengajar. Dengan demikian, bahu-membahu menulis PTK itu tidaklah terlalu sulit alasannya yakni yang ditulis yakni pengalaman yang dilakukan dikala mengajar. Dengan demikian, apabila ada guru kelas 2 melaksanakan penelitian di kelas 3, sudah sanggup dipastikan PTK akan ditolak, begitu pula apabila ada guru mengajar di SD X melaksanakan penelitian di SD Y, PTK juga niscaya ditolak. 


  3. Memiliki mekanisme yang benar
    Sebuah PTK selalu ditandai dengan adanya siklus, bisa dua siklus, bisa juga tiga siklus. Tidak pernah ada sebuah PTK yang hanya ada satu siklus alasannya yakni belum terlihat adanya peningkatannya. Kalau dibandingkan dengan prasiklus, bukanlah PTK, tetapi penelitian eksperimen. Hasil prasiklus sebagai kelompok kontrol, sedangkan hasil siklus satu merupakan kelompok eksperimen.Begitu juga tidak pernah ada PTK yang mempunyai lebih dari tiga siklus alasannya yakni kalau itu terjadi berarti tindakannya perlu diganti atau obatnya tidak manjur. Mengenai berapa pertemuan setiap siklusnya? Memang ada yang menyampaikan bahwa setiap siklus diusahakan mempunyai lebih dari satu pertemuan alasannya yakni kalau hanya satu pertemuan dianggap jadwal remidi, bukan PTK. 

  4. Lampirannya lengkap

    Lampiran dalam PTK sangat dibutuhkan untuk mengambarkan keabsahan hasil penelitian. Lampiran akan meyakinkan TIM penilai apakah PTK tersebut benar-benar dilakukan atau sekadar laporan palsu. Hal-hal yang perlu dilampirkan antara lain surat izin penelitian, RPP masing-masing siklus, instrumen yang dipakai (lembar observasi dan tes), pola hasil kerja siswa, dan foto kegiatan. 


  5. Telah diseminarkan 

    PTK yang akan diajukan untuk kenaikan pangkat harus diseminarkan di depan minimal 15 guru dan minimal 3 sekolah yang berbeda. Dalam satu kegiatan seminar, maksimal tiga guru penyaji yang berbeda. Artinya, satu guru hanya boleh satu penyajian. Selanjutnya, bukti seminar yang perlu dilampirkan dalam PAK mencakup surat undangan, daftar hadir yang memuat nama, asal sekolah dan TTD, laporan hasil seminar serta foto kegiatan seminar.
Inilah yang sanggup saya berikan kepada pembaca dalam sebuah goresan pena singkat ini. Intinya, menulis PTK itu kuncinya ada kemauan. Untuk kenaikan pangkat, PTK hanya diharuskan untuk kenaikan ke golongan IV ke atas, itu pun satu PTK sudah diperbolehkan. PKB lainnya bisa artikel ilmiah, artikel populer, buku anutan guru, karya terjemahan, menulis buku, buku anutan guru, karya seni, dan karya inovatif.

Disamping itu komentar-komentar yang eksklusif ditanggapi terhadap postingan tersebut juga mungkin perlu kita simak untuk memperdalam pemahaman kita terhadap goresan pena tersebut, diantaranya yang berhasil kami rangkum berikut ini :

Tanya :
mohon pencerahan judul yang Bapak berikan dengan judul hasil ubahan saya:
"Peningkatan kemampuan memahami jenis berdiri dengan memakai media PARET siswa kelas V B SD Negeri Petamanan Pasuruan"
diubah menjadi:
"Peningkatan Kemampuan Pemahaman Jenis Bangun dengan Penggunaan Media PARET Siswa Kelas V B SD Negeri Petamanan Pasuruan"

Jawab :
kemampuan itu kata benda dan dilanjutkan dengan kata kerja contohnya kemampuan berlari, kemampuan mengaji, kemampuan mengiitung. Kalau diganti kemampuan pemahaman itu tdk sesuai alasannya yakni pemahaman itu kata benda

Tanya :
Saya gres lulus kuliah & gres menjadi guru. Apakah saya sudah boleh melaksanakan PTK di Sekolah saya mengajar?

Jawab :
Boleh dan tidak wajib untuk pengambilan PAK fungsional. Setelah mempunyai PAK fungsional, 2 tahun berikutnya mengajukan kenaikan pangkat ke III b. PTK yang punyai guru golongan III a lebih baik dilombakan di LKG maupun lomba best practice tinggal mengubah bentuknya.

Tanya :
selama ini Judul sebuah karya tulis ilmiah yang saya ketahui harus memakai kalimat pasif, alasannya yakni dalam kalimat pasif terdapat analisis....

Jawab :
Tidak. Judul karya tulis ilmiah tidak harus kalimat pasif, tergantung dari jenis karya tulisnya. Kalau karya tulis ilmiah berpentuk artikel terkenal harus singkat, provokatif dan sesuai dengan isi. Untuk artikel ilmiah hasil penelitian harus tampak variabel penelitiannya. Untuk PTK tampak penyakit, obat, pasien, dan rumah sakitnya. Untuk isi laporan penelitian hendaknya tidak bersifat subjektif sehingga perlu diubah menjadi kalimat pasif, contohnya Dalam penelitian ini saya merumuskan duduk kasus sebagai berikut HARUS DIGANTI Masalah dalam penelitian ini dirumuskan sebagai berikut.

Tanya :
Syarat yang dibuat-buat serta meperberat. Dengan seminar mininal 3 sekolah buntutnya manipulasi. Jujur lebih terhormat. Hendaknya syarat diseminarkan itu ditiadakan diganti publikasi di perpustakaan beberapa sekolah

Jawab :
Hidup itu pilihan. Kalau mau berbohong, dipublikasikan di perpus pun bisa berbohong. Misalnya, karya orang lain diganti nama eksklusif ke perpus. Kalau diseminarkan, apabila bukan karya sendiri akan tampak berbohongnya. Akan tetapi ini juga tidak menjamin. Semua tergantung dari pribadi guru sebagai tenaga profesional yang digugu lan ditiru. Semoga kejujuran dimulai dari guru dan akan dipertanggungjawabkan di depan sang kaliq.

Tanya :
Yang saya ketahui, singkatnya- untuk melaksanakan siklus berikutnya itu kan tergantung rekomendasi dari siklus sebelumnya, dan tindakan yang dilakukan-pun tergantung rekom dari siklus sebelumnya. Jadi, melanjutkan siklus yang direncanakan atau tidak, tergantung apakah semua indikator keberhasilan itu sudah tercapai apa belum. Dan jarang ada PTK yang 1 siklus sudah selesai, alasannya yakni biasanya faktor yg diselidiki itu menyangkut banyak hal. Kemudian kalau hanya 1 siklus, dikhawatrikan.... SESUATU/KEBERHASILAN YANG SUDAH DICAPAI PADA SIKLUS PERTAMA ADA KEMUNGKINAN BISA LEBIH BAIK LAGI jikalau treatment dilanjutkan, akan tetapi jikalau balasannya sdh mentok berarti treatment sdh tidak boleh di tamat siklus kedua. Itu kira2 yg saya tahu, kenapa kok diupayakan minimal dua siklus. Pada dasarnya melaksanakan PTK itu kan berupaya untuk memecahkan duduk kasus yg dihadapi. Apa tidak ingin, jikalau duduk kasus itu terpecahkan secara maksimal?, Seperti dokter pada dikala menangani pasiennya. Tindakan yang dilakukan selanjutnya tergantung dari perkembangan sebelumnya. Dan dokter akan menghentikan treatment jikalau balasannya sdh maksimal. Maaf.... itu nurut saya.

Jawab :
Inti dari PTK adala untuk meningkatkan kemampuan siswa dalam sebuah KD dengan memakai tindakan tertentu. Untuk teori aslinya, memang PTK bisa saja satu siklus. Masalahnya sekarang, kalau hanya satu siklus, balasannya dibandingkan dengan apa? Kalau dibandingkan dengan prasiklus, berarti bukan sebua PTK, tetapi penilitian eksperimen. Prasiklus sebagai kelompok kontrol dan siklus 1 sebagai kelompok eksperimen. Mengenai perlu dua siklus, tiga siklus atau empat siklus tergantung dari hasil releksi pada siklus sebelumnya dan ketercapaian kriteria yang sudah ditetapkan. Kalau lebih dari tiga hingga empat siklus, berarti tindakan yang kita pili tidak sesuai atau tidak sempurna sama dengan obat yang tidak ampu atau tidak bisa menyembukan. Hal itu berarti obatnya perlu diganti atau tindakannya diganti.

Selanjutnya apabila ada yang perlu didiskusikan, pembaca bisa menghubungi Bp. Dr. Imron Rosidi, M.Pd. dalam email imron_1966@yahoo.co.id atau no HP 081210500199.
Terima kasih, agar bermanfaat. amin

Sumber : https://www.facebook.com/groups/igipusat/permalink/10154204387251393/?pnref=story

Sumber http://www.al-maududy.com/

Subscribe to receive free email updates:

loading...