Penyusunan Butir Soal Tes Tertulis

Siswa sedang menjawab soal pilihan ganda pada LJK Penyusunan Butir Soal Tes Tertulis
Siswa sedang menjawab soal pilihan ganda pada LJK

Penulisan butir soal tes tertulis merupakan suatu acara yang sangat penting dalam penyiapan materi ulangan/ujian. Setiap butir soal yang ditulis harus berdasarkan rumusan indikator soal yang sudah disusun dalam kisi-kisi dan berdasarkan kaidah penulisan soal bentuk obyektif dan kaidah penulisan soal uraian.

Penggunaan bentuk soal yang sempurna dalam tes tertulis, sangat tergantung pada perilaku/kompetensi yang akan diukur. Ada kompetensi yang lebih sempurna diukur/ditanyakan dengan memakai tes tertulis dengan bentuk soal uraian, ada pula kompetensi yang lebih sempurna diukur dengan memakai tes tertulis dengan bentuk soal objektif. Bentuk tes tertulis pilihan ganda maupun uraian mempunyai kelebihan dan kelemahan satu sama lain.

baca juga  Menyusun kisi-kisi soal ulangan / ujian untuk mengetahui keunggulan dan keterbatasan soal pilihan ganda dan uraian.

Penulisan Soal Bentuk Uraian

Menulis soal bentuk uraian diharapkan ketepatan dan kelengkapan dalam merumuskannya. Ketepatan yang dimaksud yaitu bahwa materi yang ditanyakan sempurna diujikan dengan bentuk uraian, yaitu menuntut akseptor didik untuk mengorganisasikan gagasan dengan cara mengemukakan atau mengekspresikan gagasan secara tertulis dengan memakai kata-katanya sendiri. 

Adapun kelengkapan yang dimaksud yaitu kelengkapan sikap yang diukur yang dipakai untuk menetapkan aspek yang dinilai dalam fatwa penskorannya. Hal yang paling sulit dalam penulisan soal bentuk uraian yaitu menyusun fatwa penskorannya.

Penulis soal harus sanggup merumuskan setepat-tepatnya fatwa penskorannya alasannya yaitu kelemahan bentuk soal uraian terletak pada tingkat subyektivitas penskorannya. Berdasarkan metode penskorannya, bentuk uraian diklasifikasikan menjadi 2, yaitu uraian objektif dan uraian non-objektif. 

Bentuk uraian objektif yaitu suatu soal atau pertanyaan yang menuntut sehimpunan tanggapan dengan pengertian/konsep tertentu, sehingga penskorannya sanggup dilakukan secara objektif. Artinya sikap yang diukur sanggup diskor secara dikotomus (benar - salah atau 1 - 0). 

Bentuk uraian non-objektif yaitu suatu soal yang menuntut sehimpunan tanggapan dengan pengertian/konsep berdasarkan pendapat masing-masing akseptor didik, sehingga penskorannya sukar untuk dilakukan secara objektif. 

Untuk mengurangi tingkat kesubjektifan dalam dukungan skor ini, maka dalam menentukan sikap yang diukur dibuatkan skala. Contoh contohnya sikap yang diukur yaitu "kesesuaian isi dengan tuntutan pertanyaan", maka skala yang disusun diadaptasi dengan tingkatan kemampuan akseptor didik yang akan diuji.

Untuk tingkat SMA, contohnya sanggup disusun skala menyerupai berikut.
Siswa sedang menjawab soal pilihan ganda pada LJK Penyusunan Butir Soal Tes Tertulis


Agar soal yang disusun bermutu baik, maka penulis soal harus memperhatikan kaidah penulisannya. Untuk memudahkan pengelolaan, perbaikan, dan pengembangan soal, maka soal ditulis di dalam format kartu soal Setiap satu soal dan fatwa penskorannya ditulis di dalam satu format. Contoh format soal bentuk uraian dan format penskorannya yaitu menyerupai berikut ini.
Siswa sedang menjawab soal pilihan ganda pada LJK Penyusunan Butir Soal Tes Tertulis
format Katu soal bentuk uraian dan format penskorannya
Bentuk soalnya terdiri dari: (1) dasar pertanyaan/stimulus bila ada/diperlukan, (2) pertanyaan, dan (3) fatwa penskoran. 

Kaidah penulisan soal uraian menyerupai berikut.
A. Materi
  1. Soal harus sesuai dengan indikator.
  2. Setiap pertanyaan harus diberikan batasan tanggapan yang diharapkan.
  3. Materi yang ditanyakan harus sesuai dengan tujuan peugukuran.
  4. Materi yang ditanyakan harus sesuai dengan jenjang jenis sekolah atau tingkat kelas.
B. Konstruksi
  1. Menggunakan kata tanya/perintah yang menuntut tanggapan terurai.
  2. Ada petunjuk yang terang wacana cara mengerjakan soal.
  3. etiap soal harus ada fatwa penskorannya.
  4. Tabel, gambar, grafik, peta, atau yang sejenisnya disajikan dengan jelas, terbaca, dan berfungsi.
C. Bahasa
  1. Rumusan kalimat soal harus komunikatif.
  2. Menggunakan bahasa Indonesia yang baik dan benar (baku).
  3. Tidak mengakibatkan penafsiran ganda.
  4. Tidak memakai bahasa yang berlaku setempat/tabu.
  5. Tidak mengandung kata/ungkapan yang menyinggung perasaanpeserta didik.

Penulisan Soal Bentuk Pilihan Ganda

Menulis soal bentuk pilihan ganda sangat diharapkan keterampilan dan ketelitian. Hal yang paling sulit dilakukan dalam menulis soal bentuk pilihan ganda yaitu menuliskan pengecohnya. Pengecoh yang baik yaitu pengecoh yang tingkat kerumitan atau tingkat kesederhanaan, serta panjangpendeknya relatif sama dengan kunci jawaban. 

Oleh alasannya yaitu itu, untuk memudahkan dalam penulisan soal bentuk pilihan ganda, maka dalam penulisannya perlu mengikuti langkah-langkah berikut, langkah pertama yaitu menuliskan pokok soalnya, langkah kedua menuliskan kunci jawabannya, langkah ketiga menuliskan pengecohnya.

Untuk memudahkan pengelolaan, perbaikan, dan perkembangan soal, maka soal ditulis di dalam format kartu soal. Setiap satu soal ditulis di dalam satu format. Adapun formatnya menyerupai berikut ini.
Siswa sedang menjawab soal pilihan ganda pada LJK Penyusunan Butir Soal Tes Tertulis
format kartu soal bentuk pilihan ganda dan format penskorannya
Soal bentuk pilihan ganda merupakan soal yang telah disediakan pilihan jawabannya. Peserta didik yang mengerjakan soal hanya menentukan satu tanggapan yang benar dari pilihan tanggapan yang disediakan. Soalnya mencakup: (1) dasar pertanyaan/stimulus (bila ada), (2) pokok soal (stem), (3) pilihan tanggapan yang terdiri atas: kunci tanggapan dan pengecoh.
Perhatikan referensi berikut!
Siswa sedang menjawab soal pilihan ganda pada LJK Penyusunan Butir Soal Tes Tertulis
Contoh soal pilihan ganda


Kaidah penulisan soal pilihan ganda yaitu menyerupai berikut ini.
A. Materi
  1. Soal harus sesuai dengan indikator. Artinya soal harus menanyakan sikap dan materi yang hendak diukur sesuai dengan rumusan indikator dalam kisi-kisi.
  2. Pengecoh harus bertungsi
  3. Setiap soal harus mempunyai satu tanggapan yang benar. Artinya, satu soal hanya mempunyai satu kunci jawaban.
B. Konstruksi
  1. Pokok soal harus dirumuskan secara terang dan tegas. Artinya, kemampuan/ materi yang hendak diukur/ditanyakan harus jelas, tidak mengakibatkan pengertian atau penafsiran yang berbeda dari
    yang dimaksudkan penulis. Setiap butir soal hanya mengandung satu persoalan/gagasan
  2. Rumusan pokok soal dan pilihan tanggapan harus merupakan pernyataan yang diharapkan saja. Artinya apabila terdapat rumusan atau pernyataan yang gotong royong tidak diperlukan, maka rumusan atau pernyataan itu dihilangkan saja.
  3. Pokok soal jangan memberi petunjuk ke arah tanggapan yang benar. Artinya, pada pokok soal jangan hingga terdapat kata, kelompok kata, atau ungkapan yang sanggup m    emberikan petunjuk ke arah tanggapan yang benar.
  4. Pokok soal jangan mengandung pernyataan yang bersifat negatif ganda. Artinya, pada pokok soal jangan hingga terdapat dua kata atau lebih yang mengandung arti negatif. Hal ini untuk mencegah terjadinya kesalahan penafsiran akseptor didik terhadap arti pernyataan yang dimaksud. Untuk keterampilan bahasa, penggunaan negatif ganda diperbolehkan bila aspek yang akan diukur justru pengertian wacana negatif ganda itu sendiri.
  5. Pilihan tanggapan harus sejenis dan logis ditinjau dari segi materi. Artinya, semua pilihan tanggapan harus berasal dari materi yang sama menyerupai yang ditanyakan oleh pokok soal, penulisannya harus setara, dan semua pilihan tanggapan harus berfungsi.
  6. Panjang rumusan pilihan tanggapan harus relatif sama. Kaidah ini diharapkan alasannya yaitu adanya kecenderungan akseptor didik menentukan tanggapan yang paling panjang alasannya yaitu seringkali tanggapan yang lebih panjang itu lebih lengkap dan merupakan kunci jawaban.
  7. Pilihan tanggapan jangan mengandung pernyataan “Semua pilihan tanggapan di atas salah" atau "Semua pilihan tanggapan di atas benar". Artinya dengan adanya pilihan tanggapan menyerupai ini, maka secara materi pilihan tanggapan berkurang satu alasannya yaitu pernyataan itu bukan merupakan materi yang ditanyakan dan pernyataan itu menjadi tidak homogen.
  8. Pilihan tanggapan yang berbentuk angka atau waktu harus disusun berdasarkan urutan besar kecilnya nilai angka atau kronologis. Artinya pilihan tanggapan yang berbentuk angka harus disusun dari nilai angka paling kecil berurutan hingga nilai angka yang paling besar, dan sebaliknya. Demikian juga pilihan tanggapan yang menawarkan waktu harus disusun secara kronologis. Penyusunan secara unit dimaksudkan untuk memudahkan akseptor didik melihat pilihan jawaban.
  9. Gambar, grafik, tabel, diagram, wacana, dan sejenisnya yang terdapat pada soal harus terang dan berfungsi. Artinya, apa saja yang menyertai suatu soal yang ditanyakan harus jelas, terbaca, dapat
    dimengerti oleh akseptor didik. Apabila soal bisa dijawab tanpa melihat gambar, grafik, tabel atau sejenisnya yang terdapat pada soal, berarti gambar, grafik, atau tabel itu tidak berfungsi.
  10. Rumusan pokok soal tidak memakai ungkapan atau kata yang bermakna tidak niscaya seperti: sebaiknya, umumnya, kadang-kadang.
  11. Butir soal jangan bergantung pada tanggapan soal sebelumnya. Ketergantungan pada soal sebelumnya menimbulkan akseptor didik yang tidak sanggup menjawab benar soal pertama tidak akan sanggup menjawab benar soal berikutnya.
C. Bahasa/budaya
  1. Setiap soal harus memakai bahasa yang sesuai dengan kaidah bahasa Indonesia. Kaidah bahasa Indonesia dalam penulisan soal di antaranya meliputi: a) pemakaian kalimat: (1) unsur subyek, (2) unsur predikat, (3) anak kalimat; b) pemakaian kata: (1) pilihan kata, (2) penulisan kata, dan c) pemakaian ejaan: (1) penulisan huruf, (2) penggunaan tanda baca.
  2. Bahasa yang dipakai harus komunikatif, sehingga pernyataannya gampang dimengerti warga belajar/peserta didik.
  3. Pilihan tanggapan jangan yang mengulang kata/frase yang bukan merupakan satu kesatuan pengertian. Letakkan kata/frase pada pokok soal.
Referensi : PANDUAN PENULISAN BUTIR SOAL , BSNP Kemdikbud, 2010

Sumber http://www.al-maududy.com/

Subscribe to receive free email updates:

loading...