Ekuivalensi Aktivitas Pembelajaran/Pembimbingan Berlaku Terbatas, Tidak Berlaku Untuk Sekolah Dasar

Adanya kebijakan untuk kembali pada Kurikulum Tahun 2006 berdampak pada terjadinya sebagian guru tidak terpenuhi beban mengajar 24 jam tatap muka per ahad menurut Kurikulum Tahun 2006. Akibatnya yaitu mereka tidak akan memperoleh SKTP sebagai dasar untuk memperoleh pertolongan profesi.

Untuk mengatasi kondisi pemenuhan beban mengajar - supaya mereka memperoleh pertolongan profesi, dibentuk Peraturan Menteri Pendidikan dan Kebudayaan yang terkait dengan ekivalensi acara pembelajaran pembimbingan di luar tatap muka sebagai kepingan dari pemenuhan beban kerja tatap muka minimal 24 jam per minggu. Khusus untuk jenjang SMP, hanya rombel yang terdaftar pada data dapodik semester pertama tahun aliran 2014/2015 sebagai rombel yang melaksanakan kurikulum 2013.

Adanya kebijakan untuk kembali pada Kurikulum Tahun  Ekuivalensi Kegiatan Pembelajaran/Pembimbingan berlaku terbatas, tidak berlaku untuk Sekolah Dasar Ekuivalensi sendiri sanggup diartikan sebagai ‘senilai’, yang dalam konteks ini diartikan beberapa acara di luar jam tatap muka diakui senilai dengan jam tatap muka di kelas, diantaranya :

No

Kegiatan

Jumlah Kegiatan/Kelas/ Kelompok/Orang

Ekuivalensi Beban Kerja Per Minggu

1 Walikelas Satu kelas per tahun 2 Jampel
2 Membina OSIS Pengurus OSIS 1 jam pelajaran
3 Menjadi guru piket 1 kali dalam seminggu 1 jam pelajaran
4 Membina acara ekstrakurikuler, ibarat OSN, Keagamaan, Pramuka, Olah raga, Kesenian, UKS, PMR, Pencinta Alam, dan KIR Satu paket per tahun 2 jam pelajaran
5 Menjadi tutor Paket A, Paket B, Paket C, Paket C Kejuruan, atau jadwal pendidikan kesetaraan Jam pelajaran per minggu Sesuai dengan alokasi jam pelajaran per minggu, maksimal 6 jam pelajaran

Ekuivalensi acara pembelajaran/pembimbingan ini diakui paling banyak 25% beban mengajar guru atau 6 jam tatap muka per ahad yang dibuktikan dengan bukti fisik.dan hanya berlaku hingga dengan 31 Desember 2016. Sehingga pada 1 Januari 2017 guru yang memenuhi 24 jam tatap muka per ahad dengan melaksanakan ekuivalensi acara pembelajaran harus sanggup menyesuaikan kembali jumlah jam tatap muka per ahad sebanyak minimal 24 jam sesuai dengan peraturan yang berlaku

Kegiatan pembelajaran/pembimbingan di luar tatap muka yang sanggup diekuivalensikan sebagai kepingan dari pemenuhan beban kerja tatap muka minimal 24 jam per minggu, diperuntukkan bagi guru SMP/SMA/SMK yang mengajar mata pelajaran tertentu pada rombongan berguru yang melaksanakan Kurikulum 2013 pada semester pertama menjadi Kurikulum Tahun 2006 pada semester kedua tahun pelajaran 2014/2015.

Perlu diingat bahwa bukan mata pelajarannya yang diekuivalensi, akan tetapi guru yang mengajar mata pelajaran tertentu pada rombongan berguru yang melaksanakan Kurikulum 2013 pada semester pertama menjadi Kurikulum Tahun 2006 pada semester kedua tahun pelajaran 2014/2015 yang sanggup melaksanakan ekuivalensi acara pembelajaran/ pembimbingan di luar tatap muka sebagai kepingan dari pemenuhan beban kerja tatap muka minimal 24 jam per minggu.

Mereka yang terkena efek yaitu yang mengajar :

  • Bahasa Indonesia, Ilmu Pengetahuan Alam, Matematika, Pendidikan Pancasila dan Kewarganegaraan, Pendidikan Jasmani Olahraga dan Kesehatan, Seni Budaya, dan TIK pada SMP,
  • Mata pelajaran Geografi, Matematika, Pendidikan Jasmani Olahraga dan Kesehatan, Sejarah, dan TIK pada Sekolah Menengan Atas dan
  • Mata pelajaran Bahasa Indonesia, Pendidikan Jasmani Olahraga dan Kesehatan, Sejarah, dan TIK/KKPI pada SMK.

Dengan demikian ekuivalensi ini tidak berlaku bagi guru-guru pada Sekolah Dasar sebab guru di sekolah dasar merupakan guru kelas, yang beban kerjanya sudah sanggup mencukupi 24 jam tatap muka per ahad dan bahkan sanggup lebih dari itu menurut struktur jadwal kurikulum.

Adapun guru mata pelajaran Pendidikan Agama dan guru Pendidikan Jasmani, Olahraga, dan Kesehatan di Sekolah Dasar. alokasi waktu mata pelajaran tersebut dalam struktur kurikulum SD menurut Kurikulum 2013 dan Kurikulum Tahun 2006 tidak mengalami perubahan, sehingga tidak ada problem dalam pemenuhan beban mengajar minimal 24 jam tatap muka per ahad bila rombongan belajarnya mencukupi.

Apabila rombongan belajarnya tidak mencukupi, guru-guru mata pelajaran tersebut, terutama yang telah bersertifikat pendidik tidak hanya sanggup mengajar di sekolahnya, namun juga sanggup mengajar di SD lain, SMP, SMA, atau Sekolah Menengah kejuruan untuk mata pelajaran yang sama dengan akta pendidiknya. Dengan demikian tidak dibutuhkan acara ekuivalensi dalam pemenuhan beban mengajarnya.

Referensi :

  1. Peraturan Menteri Pendidikan Dan Kebudayaan Republik Indonesia Nomor 4 Tahun 2015 perihal Ekuivalensi Kegiatan Pembelajaran/Pembimbingan Bagi Guru yang Bertugas pada SMP/SMA/SMK yang melaksanakan Kurikulum 2013 pada semester pertama menjadi Kurikulum Tahun 2006 pada semester kedua Tahun Pelajaran 2014/2015

  2. Buku Tanya Jawab perihal EKUIVALENSI KEGIATAN pembelajaran/pembimbingan bagi guru yang bertugas pada SMP/SMA/SMK yang melaksanakan kurikulum 2013 pada semester pertama menjadi kurikulum tahun 2006 pada semester kedua


Sumber http://www.al-maududy.com/

Subscribe to receive free email updates:

loading...